lentera menuntut ilmu syar’i harus dimulai dari keluarga, jangan biarkan lenteramu padam

anak2

Menuntut ilmu

Ilmu syar’i adalah penerang dalam kegelapan, benteng dari segala syubhat dan sesatnya pemikiran. Apalagi di saat syubhat membanjiri media dan televisi bahkan dunia pendidikan sekalipun, ilmu akan menjadi suluh yang menuntun kita pada sebuah keistiqomahan. Apapaun posisi kita dalam keluarga, bertanggung jawab untuk menyalakan cahaya ilmu di rumah kita masing-masing. Sebagai anak, memiliki kewjiban untuk menyampaikan ilmu kepada semua anggota keluarga. Apalagi jika anda berperan sebagai  kepala rumah tangga. Dalam hal ini ALLOH berfirman dalam surat at tahrim ayat 6 yang artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu

Memang benar, ilmu sains dan teknologi, ilmu tentang bisnis, ilmu tentang hal-hal yang mendatangkan maslahat dan kemapanan hidup itu penting. Tapi sesungguhnya ilmu syar’i jauh lebih penting. Karena ilmu duniawi yang berada ditangan orang yang tidak memiliki ilmu syar’i, mengandung potensi yang berbahaya. Begitupun segala kemaslahatan yang bersifat duniawi, hanya bersifat semu jika tidak dilandasi ibadah. Sedangkan pintu dari segala bentuk ibadah adalah ilmu syar’i. Pada intinya harus pandai menintegralkan ilmu dunia kedalam ilmu syar’i.

Keluarga adalah elemen utama sebagai sasaran dakwah kita. Bukankah kita ingin agar mereka berkeluarga dengan kita di jannah sebagaimana mereka berkeluarga dengan kita di dunia? Meski dengan keluarga sendiri jangan dikira bahwa usaha ini akan berjalan tanpa hambatan. Rasa tidak enak seringkali muncul dalam menyampaikan sebuah ilmu justru karena kita sudah sangat dekat dengan mereka. Sehingga perlu adanya sebuah metode dan pemilihan kata yang tepat.  Mungkin banyak diantara kita yang bingung harus dengan cara apa kita menyampaikannya, karena banyak juga diantara kita yang tidak ‘pandai bicara’. Bismillah….. insyaALLOh semuanya akan menjadi mudah jika kita tidak henti-hentinya meminta pertolongan pada ALLOH, meskipun cara kita berdakwah pada keluarga hanya bisa dengan sikap kita yang ahsan (baik) pada mereka. Apabila mereka bertanya, kita jawab sesuai dengan alam berfikir mereka namun tidak lepas dari kaidah-kaidah syar’i.kids

Memang, membina dan membimbing keluarga pada ilmu dan kebaikan bukanlah tugas yang gampang. Mendidik diri sendiri saja, kita masih sering kesulitan. Tapi bagaimanapun, tugas ini harus tetap dilaksanakan. Sesederhana apapun , kita harus mencoba. Tidak ada kata terlambat dalam belajar dan ilmu bisa didapat tanpa ada batasan usia. Yakinkan diri dan keluarga bahwa menuntut ilmu syar’i adalah kewajiban bagi setiap muslim mulai dari buaian hingga liang lahat. (al ishlah ’13)